Mengapa begitu? Padahal aku kan hanya berdua untuk menjadi yang terbaik bagimu. Apa kau tahu keadaanku? Apa kau tahu apa yang terjadi padaku setelahnya? Apa kau pernah memikirkanku sekalipun setelahnya? Apa kau sungguh pernah memikirkanku? Aku tidak yakin. Karena aku tahu, kau pasti tidak pernah memikirkanku. Kau telah memiliki apa yang lebih penting dariku di sisimu. Kau miliki sahabatmu. Dua orang yang harus selalu kau jaga itu.
Tidak penting apakah aku ada di sisimu atau tidak, bukan? Bukankah aku benar bahwa aku tidak penting bagimu? Seharusnya kau mengakuinya dulu. Kau tahu, aku berusaha menghindarkan segala pemikiran negatif tentangmu. Tapi, jika memang keadaannya adalah sesuai dengan apa yang kuduga sekarang, sungguh aku tidak bisa membayangkannya. Apa kau pikir aku bodoh bisa kau bodohi semaumu, hah?
Sayang sekali, aku mengetahuinya. Begitu, bukan? Kau tahu, aku berharap bisa bertemu dan berharap bisa menjadi seperti dulu lagi denganmu. Apa kau pernah memikirkan hal seperti itu? Kau tidak tahu. Kau tidak tahu bahwa aku benar-benar terpuruk setelahnya. Kau hanya tahu bahwa aku meninggalkanmu. Kau hanya tahu itu. Kau tidak tahu hal lain yang membuatku meninggalkanmu.
Tentu saja alasannya karena aku tidak bisa menganggapmu hanya sebatas teman saja. Lagipula, aku juga mungkin hanya sedikit memercayaimu saat ini? Padahal sekeras apapun aku berusaha untuk terus memercayaimu sampai akhir, tapi nyatanya itu sulit. Dan, ya. Aku melewatkannya. Kenapa? Karena aku tidak tahan. Pernahkah kau memikirkan perasaanku itu?
Pernahkah otakmu itu berpikir seperti aku berpikir tentangmu? Ya, silakan. Katakan saja aku egois. Tapi, aku sudah berusaha menahannya. Ya, untuk tidak egois tentangmu. Tapi, kau tetap saja tidak mengerti. Dan setiap saat aku berpikir, kapan kau akan mengerti bahwa aku benar-benar membutuhkanmu? Pikirkanlah diriku! Kumohon!
Hanya itu uang kuminta. Berat? Seharusnya kau tahu bagaimana hidupku lebih berat darimu. Setelah aku benar-benar mengalami masalah psikologi, ada masalah terkait psikososial, alter ego, kelainan kepribadian, dan lagi ada bahwa emosionalku tidak stabil. Mungkin ini karenanya aku berbicara begini tentangmu. Tapi, apa kau tahu bahwa aku benar-benar membicarakannya karena ingin? Ini bukan kesengajaan. Asal kau tahu itu. Yakinlah. Aku tidak main-main.
Sungguhlah bahwa bukan hanya kau saja yang salah. Karena aku juga yakin bahwa aku pun membuat kesalahan. Tapi, bisakah kau mengerti dan memahaminya? Bisakah? Kalau kau tidak bisa, baiklah. Aku bebaskan dirimu dan itulah yang kulakukan padamu. Kalau kau membaca ceritaku ini, aku harap kau tersinggung, sehingga kau mengerti tentang alasanku meninggalkanmu.
Aku tidak ingin bertele-tele. Hanya saja aku ingin mengatakan hal ini semua. Kau tahu, sesak dan aku merasa hatiku benar-benar penuh dengan banyak perasaan. Itu beban. Sangat. Aku hanya mengeluarkannya beberapa saja. Dan salah satunya adalah perasaan menyebalkan ini. Karena itu, jangan salah paham bahwa aku membicarakanmu karena aku benar-benar ingin menjatuhkanmu.
Ah! Tidak. Kau bahkan tidak akan membaca ceritaku ini. Haha. Baguslah kalau begitu. Maka, dia akan bebas berkata-kata. Dan keluar dalam beberapa saat untuk membuat sebuah tulisan.
No comments:
Post a Comment