Hmm, aku menyakiti seseorang lagi. Terlalu banyak bicara lagi juga. Terlalu jujur. Lagi-lagi salah. Haah, kapan aku bisa berhenti membuat kesalahan dan berhenti menyakiti orang lain? Aku ini memang sebenarnya tidak bisa diam, yaa? Apa-apa ngomong, terus akhirnya nyakitin orang lain karena omonganku itu. Jujur. Menyakitkan. Udah tau nyakitin orang lain, malah tetep aja ga mau berhenti. Berhenti ngomong. Harusnya—aku puasin diri sendiri aja dengan ngomong apa aja lah ke diri sendiri. Jujur. Nyakitin diri sendiri. Harusnya gitu aja, bukan ke orang lain. Soalnya orang lain itu belum tentu bakal memaafkan apa yang udah aku perbuat, apa yang aku bilang ke mereka. Terlalu baka!! Aku. Harusnya aku bisa diem. Kalau aku berhenti ngomong, mungkin tidak akan ada lagi orang yang tersakiti olehku. Hmm, lebih baik aku memang tidak ada saja. Dengan begitu, bukankah orang lain akan menjadi bahagia? Yaah, meskipun orang bahagia karenaku, tapi pasti tanpaku seseorang itu akan menjadi lebih bahagia. Aku akan lebih suka jika begitu. Bagiku, orang lain adalah prioritas, meskipun terkadang aku salah dan tak mampu memprioritaskan orang-orang itu, orang-orang yang penting bagiku. Aku kalah dari kelemahanku dan keterbatasanku bagi seorang manusia. Orang bilang, jika ingin lebih, maka lakukanlah lebih. Tapi, kalau aku, semakin melakukan lebih, maka akan lebih banyak lagi kesalahan dan ketidakbahagiaan yang kuciptakan pada orang lain. Dan karena itulah aku tak akan mampu melakukan lebih. Lebih banyak lagi. Dari segala hal yang sudah aku lakukan sekarang. Entah bagaimana masa depanku. Aku hanya tahu, bahwa sepertinya—suram. Aku menolak orang lain menjadi temanku. Aku menolak orang lain untuk bersamaku. Aku lebih memilih orang lain bersama yang lainnya daripada bersamaku. Karena aku tahu, bahwa jika orang lain bersamaku, mereka tidak akan bahagia, aku merepotkan mereka saja. Menjadi beban yang sangat berat bagi mereka, meskipun mereka mengatakannya tidak begitu. Tapi aku tahu. Aku tahu aku salah karena menolak kehadiran orang lain dan siapapun itu di hidupku. Tidak, dulu aku tidak begitu. Hanya saja akhir-akhir ini aku berpikir akan begitu setelah aku sadar tentang banyaknya kesalahanku dan kelalaianku dengan membuat orang lain tidak bahagia. Padahal keinginanku hanyalah melihat orang lain bahagia, membuat orang lain bahagia. Tersenyum, tertawa. Selalu bahagia. Hanya itu yang aku inginkan. Tapi entah kenapa, semakin ke sini, semakin banyak upaya dan hal yang kulakukan untuk membuat orang lain bahagia, aku malah semakin menyakiti mereka, membuat mereka malah tidak bahagia. Itu sama sekali bukan keinginanku. Jadi, kupikir aku mundur saja, berubah, lalu menghilang, dari siapapun itu. Pasti akan menjadi lebih baik lagi. Orang-orang akan kembali bahagia, tanpaku. Akan lebih baik jika begitu. Tapi—aku sudah terlanjur berada dalam hidup orang lain. Ya, kuyakini memang pasti semua orang akan selalu ada di hidup orang lain. Tapi entah kenapa aku terlalu merasa salah dan tidak berguna daripada mereka-mereka semua yang ada di hidup orang lain. Aku tidak mempercayainya lagi, mungkin. Tentang apakah orang lain bahagia karenaku. Karena kuyakini, tidak. Aku tidak membenci diriku. Hanya saja, aku terlalu banyak membuat kesalahan dan membiarkan orang lain tidak bahagia. Tidak bertanggung jawab, langsung pergi aja. Padahal itu sudah jelas karena aku. Kenapa aku begitu? Setidakmampunya kah aku? Karena itu? Apakah aku benar-benar pernah berusaha kalau begitu? Pernahkah? Pernahkah aku memikirkan orang lain kalau begitu? Pernahkah aku membuat orang lain bahagia kalau begitu? Pernahkah aku memedulikan orang lain kalau begitu? Pernahkah aku memprioritaskan orang lain kalau begitu? Pernahkah aku menganggap orang lain penting bagiku kalau begitu? Pernahkah aku menganggap kehadiran orang lain itu ada di hidupku? Pernahkah? Semua itu?
Aku jadi bertanya-tanya tentang selama ini yang kulakukan apakah benar atau tidak. Karena setiap usahaku itu, selalu saja akhirnya membuat orang lain tidak bahagia. Kenapa aku menjadi begitu salah? Kenapa aku malah menyakiti orang lain? Kenapa aku malah bertindak seenaknya dan setauku sendiri? Seharusnya aku sadar diri. Bahwa apapun yang kulakukan itu sia-sia. Hanya menambah beban dan rasa sakit bagi orang lain, untuk orang lain. Aku ini—menyedihkan. Aku bahkan tak mampu menyelesaikan masalahku untuk orang lain, selain untuk diriku sendiri. Langkah apa yang kubuat, apapun itu akhirnya hanya berupa penyesalan saja. Yah, meskipun aku meyakinkan diriku sendiri, bahwa aku tidak boleh menyesali apapun yang sudah aku perbuat, tapi tetap saja. Karena itu kesalahan, bagaimana mungkin aku tidak menyesalinya? Bagaimana mungkin aku tidak ada rasa penyesalan? Pasti itu ada dalam diriku, dalam hatiku. Meskipun aku tak mempercayainya pun bahwa aku memiliki rasa itu, entah kenapa pikiranku selalu berkata begitu, dengan halus, tidak spontan. Mungkin untuk membuatku sadar perlahan-lahan. Sadar bahwa aku begitu salah, dan akhirnya penuh dengan rasa penyesalan. Padahal aku tak butuh rasa sesal itu, aku sudah sadar. Sendiri. Menyadarinya. Tapi, aku tak mampu berbuat apa-apa. Aku tidak tahu harus apa. Tolong, jadilah seperti yang aku inginkan, siapapun itu kamu. Semoga Allah kabulkan doaku, Aamiin.
No comments:
Post a Comment