Sepertinya aku akan menangis lagi malam ini. Haah, kapan, yaa malamku akan tenang tanpa tangisan? Hmm, akankah waktu itu masih lama? Dimana aku akan merasa sangaaaat tenang dan terasa tanpa beban. Hmm, selama itukah nanti? Aku ingin secepatnya dan segeranya. Ya, baiklah jika harus begitu. Mungkin—hmm, aku menutupnya. Segalanya tentangku. Tidak perlu orang lain tahu, dan tidak perlu orang lain mengetahuinya. Hanya aku, dan Tuhanku. Hanya aku, dan Allah. Dengan kisah-kisahku dan ceritaku. Dengan aksaraku, dan tulisanku. Hei, apakah aku egois? Katakan apa aku egois?!! Aku—
Kalau memang aku egois, aku ingin meminta maaf. Maafkan aku dan sungguh, maafkan aku. Aku bukannya ingin begitu, hanya saja—aku tidak bisa mengendalikan emosiku. Hmm, kadang. Tapi2, aku akan berusaha, dan aku pasti bisa. Aku tak boleh kalah oleh emosiku sendiri. Oleh emosi yang tidak jelas ini. Kalau aku kalah—
Seseorang yang tidak kuundang mengatakan, "Maka kau bodoh."
Hei, aku tak butuh ucapan dan balasan darimu. Biarkan aku saja yang berbicara dan mengatakan—hmm, segalanya. Kalau aku kalah—maka aku kalah. Dan itu berarti aku membiarkan diriku dihancurkan oleh emosiku sendiri. Dan aku tak akan membiarkannya. Seperti apapun juga, dan seperti bagaimana pun juga sulitnya. Aku harus bisa. Dan—mampu.
Berapa kali aku bilang bahwa aku tenggelam? Mungkin hari ini—aku harus kembali datang ke permukaan. Kembali berlayar. Di atas lautan, hihihi. Yaa, aku harus kembali menjadi 'aku' yang dulu. Yang terlihat—hmm, bahagia, mungkin? Ya, sepertinya memang harus begitu. Agar salah satu tuntutan untuk diriku sendiri terwujud, maka aku harus begitu. Yaa, meksipun terbilang memaksakan diri, tapi aku yakin jika aku menjadi, ah, tidak. Jika aku mengikuti perasaan dan emosiku, serta tidak memaksakan diriku, mungkin akan begitu banyak orang membenciku dan tidak menyukaiku. Itu bukanlah hal yang aku inginkan. Aku tidak ingin merasakan sebuah perasaan di mana aku benar-benar sendiri, sementara orang lain memandangku sinis dan sama sekali tidak memedulikanku. Anggap saja, ini kembali menjadi pantangan bagiku untuk berlayar kembali.
Mudahnya—aku hanya ingin orang-orang tidak membenciku. Meskipun itu bukanlah hal yang bisa aku kendalikan dan aku atur, tapi akan aku usahakan dengan meminimalkan orang-orang yang mungkin nanti akan membenciku. Meskipun itu tak pasti juga. Tapi, jika memang takdirku adalah dibenci oleh orang lain, maka baiklah. Setidaknya aku masih memiliki Allah yang lebih mengenalku dari siapapun yang ada di dunia ini. Masih ada Allah yang melindungi dan menyayangiku. InsyaAllah.
Hei, orang-orang. Jika kalian membenciku suatu saat nanti, aku ingin berterima kasih. Karena berkat kalian, aku jadi paham apa arti berjuang saat diri ini benar-benar sendiri, apa arti dari kesabaran, apa arti dari keikhlasan akan takdir yang kujalani. Kalian memberiku pelajaran. Yaa, meksipun ini berat bagiku, yaa aku tahu itu berat dan itu pasti. Tapi, aku akan tetap berjuang. Dan jika kalian tetap memilih membenciku, entah itu untuk sementara atau untuk selamanya, aku akan terima itu dan akan aku ikhlaskan. Aku akan tetap hidup, meskipun hidupku tidak kalian inginkan dan hidupku berada di ambang kebencian kalian. Kalian juga—harus tetap hidup dan mampukan diri kalian. Karena—kalian memilih membenciku, maka kalian pasti bisa tanpaku. Dengan senang hatinya kalian dan dengan kebahagiaan yang kalian miliki. Kalian mampu dan kalian akan selalu bisa.
Aku hanya sekilas kisah yang kalian pandang dan kalian lalui. Kalau pun kalian tidak mengingatku nantinya, atau mungkin melupakanku, maka—itu mungkin memang yang terbaik untuk kalian, menurut takdir-Nya. Aku juga akan menerimanya. Dengan senang hatiku dan dengan kebahagiaanku. Mungkin aku bahagia, ahaha. Tapi, seperti di awal, kalian tidak memedulikanku pun tak apa. Kalian tak menyayangiku pun tak apa. Kalian tak mencintaiku pun tak apa. Dan kalau pun kalian membenciku pun aku akan tetap baik-baik saja.
Meskipun itu akan menjadi bahan pikiran yang berat bagiku, aku pasti akan tetap baik-baik saja. Sesungguhnya, aku pun tidak ingin menjadi beban pikiran orang lain, tak ingin membuat orang lain khawatir, tak ingin membuat orang lain terlalu peduli padaku bahkan hingga melupakan dirinya sendiri. Ada yang lebih penting dari aku, yaitu Allah, agama mereka, dan diri mereka sendiri.
Aku akan tetap bahagia pada versiku sendiri. Meskipun bahagiaku harus kulalui sendiri dan tanpa kalian. Yaa, akan kuusahakan aku bahagia. Karena itulah—kalian juga harus bahagia, yaa. Tetap bahagia semuanya.
Aku tak berniat berbicara buruk tentang kalian, tapi—aku hanya berbicara tentang apa yang aku rasakan. Di sini, aku ingin mengatakan terima kasih karena telah menemani beberapa kisah di hidupku. Ini semua akan berarti bagiku di masa depan nanti. Terima kasih semua. Dan maaf karena aku telah mengecewakan kalian. Aku tahu kalian akan sangat kecewa padaku, yaa, bahkan mungkin sekarang juga sudah kecewa. Maaf, yaa. Aku tak berniat begitu, namun kenyataannya aku begitu. Ya, mengecewakan kalian.
Untuk kalian, maaf dan terima kasih.
Untukku, tidak ada. Aku tak perlu apa-apa untuk diriku sendiri. Aku tak peduli.